MEMBANGUN SISTEM INFORMASI UNTUK PERUBAHAN MODEL BISNIS DAN DIGITALISASI PERUSAHAAN PADA PT. TELKOM
ARTIKEL ILMIAH
PENGANTAR SISTEM INFORMASI
“MEMBANGUN SISTEM INFORMASI
UNTUK PERUBAHAN MODEL BISNIS DAN DIGITALISASI PERUSAHAAN PADA PT. TELKOM”
Yananto Mihadi
Putra,S.E.,M.Si.,CMA.

Disusun oleh :
Yustika Putri Priandani
(43219110058)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MERCUBUANA
ABSTRAK
Perkembangan teknologi yang begitu pesat
dan diiringi dengan perkembangan sistem informasi yang berbasis teknologi. Hal
ini menyebabkan terjadinya perubahan yang begitu cepat di dalam berbagai bidang
dan menggagu tatanan usaha lama (disruption). Oleh karena itu transformasi
digital (pengembangan system informasi) dapat dijadikan bentuk adaptasi dengan
berkembangnya teknologi informasi.
Membangun suatu sistem informasi yang
baru merupakan salah satu jenis dari perubahan organisasional yang
direncanakan. Pengenalan dari suatu sistem informasi yang baru melibatkan jauh lebih banyak
daripada perangkat keras dan perangkat lunak yang baru. Ini juga meliputi
perubahan dalam pekerjaan, keahlian, manajemen, dan organisasi. Ketika kita
merancang suatu sistem informasi yang baru, maka kita akan merancang ulang
organisasi. Para pembangun sistem harus memahami bagaimana suatu sistem akan memengaruhi proses bisnis yang
spesifik dan organisasi sebagai suatu keseluruhan.
Pengembangan sistem informasi ini
bertujuan untuk mengoptimalkan proses pencatatan transaksi yang
berhubungan dengan penjualan
dan persediaan barang
agar proses bisnis perusahaan lebih efektif dan efisien.
Metode penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka, metode analisis
dan perancangan. Studi
pustaka yaitu mengumpulkan
berbagai sumber-sumber
kepustakaan, metode analisis yaitu mengadakan penelitian pada perusahaan dengan
cara observasi langsung dan wawancara, analisis dan identifikasi terhadap
kekurangan pada sistem manual serta merancang sistem yang lebih baik. Metode Perancangan yaitu
dengan merancang sistem yang baru menggunakan pendekatan berorietasi objek.
Hasil yang dicapai yaitu suatu sistem informasi yang dapat mengintegrasikan
data-data yang berhubungan dengan penjualan
serta dapat menyajikan
laporan-laporan yang dibutuhkan
sehingga dapat mengefektifkan
proses bisnis yang berjalan dan dapat
memberikan informasi yang berguna
untuk mendukung dalam pengambilan keputusan.
BAB
I
PENDAHULUAN
Teknologi informasi dapat mempromosikan variasi dari derajat
perubahan organisasional, yang berkisar
dari penambahan bertahap hingga pencapaian lebih jauh. Gambar di bawah menunjukkan 4
jenis dari perubahan
struktural organisasional
yang dimungkinkan dengan
teknologi informasi: (l)
otomatisasi, (2) rasionalisasi, (3) merancang ulang proses bisnis, dan (4)
pergeseran paradigma. Masing-masing membawa risiko dan imbalan yang berbeda.
Bentuk yang paling
umum dari perubahan
organisasional yang dimungkinkan
dengan Tl adalah otomatisasi
(automation). Penerapan yang pertama dari
teknologi informasi yang melibatkan penugasan para karyawan untuk menger1akan
tugas mereka dengan lebih efisien dan lebih efektif. Menghitung pencatatan slip
gaji dan penggajian, memberikan kasir (teller)
bank akses yang lebih cepat atas catatan tabungan konsumen, dan mengembangkan jaringan reservasi
nasional bagi para agen tiket pesawat terbang, semuanya merupakan contoh-contoh
dari otomatisasi pada masa awal.
Suatu bentuk yang lebih mendalam dari
perubahan organisasional - salah satu yang mengikuti dengan cepat dari
otomatisasi awal-adalah rasionalisasi prosedur (rationalization of
producers). Otomatisasi sering
kali mengungkapkan kemacetan-kemacetan
yang baru dalam produksi dan membuat pengaturan prosedur dan struktur yang
telah ada menjadi semakin merepotkan. Rasionalisasi prosedur adalah pelurusan
prosedur operasional yang standar. Sebagai contoh, sistem MoneyGram untuk
menangani pengiriman uang secara global yang efektif bukan hanya karena menggunakan teknologi komputer semata,
tetapi juga karena perusahaan menyederhanakan proses bisnis bagi kegiatan
operasional administrasinya. Langkah-langkah secara manual yang semakin sedikit
diperlukan.
Dalam lingkungan perusahaan digital,
organisasi perlu untuk dapat menambahkan, mengubah, dan menghentikan
kemampuan teknologi mereka
dengan sangat cepat
untuk menanggapi peluang-peluang
yang baru, meliputi kebutuhan untuk menyediakan aplikasi bagi platform mobile.
Perusahaan mulai menggunakan proses pengembangan yang lebih cepat, lebih informal yang menyediakan
solusi dengan cepat. Sebagai tambahan menggunakan paket perangkat lunak dan
para penyedia layanan eksternal, para pebisnis sangat bergantung pada teknik
siklus yang cepat, seperti misalnya pengembangan aplikasi yang cepat, desain
aplikasi bersama, pengembangan yang cerdas, dan komponen perangkat lunak yang
dapat digunakan kembali yang terstandardisasi yang dapat dirakit ke dalam
seperangkat jasa yang lengkap bagi e-commerce
dan e-business.
BAB
II
LITERATUR
TEORI
Pengembangan sistem informasi adalah
proses pencarian solusi atau pemecahan dari suatu masalah baik secara
terstruktur, maupun berorientasi objek. Pengembangan secara terstruktur
biasanya lebih menekankan pembuatan sistem berdasarkan proses kerja/prosedur
yang telah ditetapkan. Sedangkan pengembangan sistem berorientasi objek lebih
menekankan pembuatan sistem terhadap peranan objek yang terlibat dalam sistem
tersebut.
Pembangunan sistem informasi merupakan
hal yang penting dalam perkembangan sistem informasi. Berikut ini definisi
pembangunan sistem informasi (Information System Development) menurut para ahli
:
1.
Kumpulan kegiatan para
analis sistem, perancang, dan pemakai yang mengembangkan dan
mengimplementasikan sistem informasi James Senn,(1989).
2.
Proses membangun dan
mengimplementasikan sistem informasi sedemikian rupa sehingga sistem informasi
tersebut menjadi ada/diwujudkan Toto Suharto,(2002:2).
3.
Proses merencanakan,
mengembangkan, dan mengimplementasikan sistem informasi dengan menggunakan
metode, taktik, dan alat bantu pengembangan tertentu
pengembangan
sistem (system development) dapat berarti menyusun sistem yang baru untuk
menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang
telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena
beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1.
Adanya
permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama.
Permasalahan-permasalahan yang timbul dapat berupa :
a.
Ketidakberesan.
b.
Pertumbuhan Organisasi
2.
Untuk meraih
kesempatan-kesempatan (oportunities). Teknologi informasi telah berkembang
dengan cepatnya. Perangkat keras komputer, perangkat lunak komputer dan
teknologi komunikasi telah berkembang dengan cepat. Organisasi mulai merasakan
bahwa teknologi informasi ini perlu digunakan untuk penyediaan informasi
sehingga dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan. Dalam keadaan
pasar yang bersaing, kecepatan informasi serta efisiensi waktu sangat
menentukan berhasil atau tidaknya strategi atau rencana yang telah disusun
untuk meraih kesempatan-kesempatan yang ada.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Sistem Sebagai Perubahan
Organisasi Yang Terencana
Membangun sistem informasi baru merupakan salah satu bentuk perubahan organisasi yang terencana. Pengenalan sistem informasi baru melibatkan lebih banyak daripada perangkat keras dan perangkat lunak baru. Ini juga mencakup perubahan dalam pekerjaan, keterampilan, manajemen, dan organisasi. Saat merancang sistem informasi baru, kita mendesain ulang organisasi. Pembangun sistem harus memahami bagaimana sistem akan mempengaruhi proses bisnis dan organisasi secara keseluruhan.
B. Pembangunan Sistem Dan Perubahan
Organisasi I
Teknologi informasi dapat mempromosikan berbagai tingkat perubahan organisasi, mulai dari yang inkremental hingga mencapai jangkauan yang jauh.
Empat jenis perubahan organisasi struktural yang dimungkinkan oleh teknologi informasi:
1. otomatisasi
adalah bentuk paling umum dari perubahan organisasi yang dimungkinkan oleh
teknologi informasi
2. rasionalisasi
adalah bentuk perubahan organisasi yang lebih mendalam yang langsung mengikuti
otomatisasi awal.
3. perancangan
ulang proses bisnis adalah bentuk perubahan organisasi yang lebih kuat melalui
proses-proses bisnis dianalisis, disederhanakan, dan dirancang ulang.
4. pergeseran
paradigma adalah perubahan bisnis yang lebih radikal. Pergeseran paradigma
melibatkan pemikiran ulang sifat dan bisnis, mendefinisikan model bisnis baru
dan sering mengubah sifat perusahaan saat ini.
C. Perancangan Ulang
Proses Bisnis
Business Process Reengineering (BPR, Rekayasa
ulang proses bisnis) adalah pemikiran kembali secara fundamental dan
perancangan kembali proses bisnis secara radikal, dihasilkan dari sumber
daya organisasi yang tersedia.
BPR menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali cara
kerja dalam mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan ulang
dimulai dengan penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi, tujuan
strategis, dan kebutuhan pelanggan.
1. Mengidentifikasi
proses untuk perubahan: Salah satu dari strategi keputusan yang paling penting
yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan adalah bukan memutuskan bagaimana
menggunakan komputer-komputer untuk meningkatkan proses bisnis, tetapi memahami
proses bisnis apakah yang memerlukan peningkatan.
2. Menganalisis
proses-proses yang telah ada: Proses bisnis yang telah ada akan dibuat model
dan didokumentasikan, mencatat input, output, sumber daya, dan
urutan aktivitas. Tim yang merancang proses akun mengidentifikasi
langkah-langkah yang redundan, tugas-tugas yang memerlukan banyak kertas,
kemacetan, dan ketidakefeksienan lainnya.
3. Merancang
proses yang baru: Ketika proses yang ada dipetakan dan diukur dalam hal waktu
dan biaya, maka tim yang merancang proses akan berusaha untuk rneningkatkan
proses dengan merancang yang baru. Proses baru yang "menjadi" lebih
efisien akan didokumentasikan dan dibuat model untuk perbandingan dengan proses
yang lama.
4. Mengimplementasikan
proses yang baru: Ketika proses yang baru telah seluruhnya dimodelkan dan
dianalisis, maka harus diterjemahkan ke dalam suatu rangkaian prosedur yang
baru dan aturan kerja. Sistem informasi yang barn atau peningkatan dari sistem
yang telah ada harus diimplementasikan untuk mendukung proses perancangan
ulang. Proses yang baru dan sistem pendukung akan diluncurkan ke dalam
organisasi bisnis. Sebagaimana bisnis mulai menggunakan proses tersebut, maka
permasalahan menjadi terselesaikan dan teratasi. Para karyawan bekerja dengan
proses yang merekomendasikan peningkatan.
5. Pengukuran
yang terus-menerus: Ketika suatu proses telah diimplementasikan dan
dioptimalkan, maka perlu diukur secara terus-menerus. Proses dapat memburuk
dari waktu ke waktu seiring dengan para karyawan menerapkan metode yang lama,
atau mereka akan kehilangan keefektifan ketika bisnis mengalami perubahan
lainnya.
D. Analisis Sistem VS Programer
Analis Sistem adalah
seseorang yang melakukan analisa dan perancangan terhadap sebuah sistem.
Sedangkan programer adalah seseorang yang mengaplikasikan rancangan dan analisa
yang dibuat oleh analis sistem. Analis sistem dan programer dapat diibaratkan
seperti seorang arsitek dengan pekerjanya. Satu melakukan rancangan dan yang
satunya lagi mengaplikasikan rancangan tersebut. Seorang Analis Sistem
harus memiliki kemampuan dan pengetahuan seperti:
1.
Teknik
pengolahan data, teknologi komputer dan pemrograman komputer. Biasanya seorang
analis sistem berawal dari programer, sehingga biasanya pasti menguasai bahasa
pemrograman yang diperlukan dalam pekerjaan seorang analis.
2.
Pengetahuan
tentang bisnis secara umum. Aplikasi bisnis merupakan aplikasi yang biasa
digunakan pada saat ini sehingga diharapkan seorang analis memahami pengetahuan
bisnis secara umum sehingga aplikasi yang dibuat dapat dipahami oleh
pemakainya.
3.
Pengetahuan
tentang metode kuantitatif
4.
Keahlian
pemecahan masalah. Seorang analis sistem harus dapat memahami permasalahan
sebuah sistem dan merancangnya kembali sehingga terbebas dari
permasalahan-permasalahan yang mungkin dapat terjadi.
5.
Keahlian
komunikasi personil. Kemampuan ini bermanfaat pada saat melakukan wawancara,
presentasi, rapat dan pembuatan laporan-laporan.
6.
Keahlian
membina hubungan antar personil
E.
Implementasi
pada PT. Telkom
Untuk memfasilitasi
proses kerja seluruh karyawan, Telkom membangun infrastruktur komunikasi yang
terintegrasi untuk mempermudah koordinasi kebijakan dan sosialisasi strategi
bisnis perusahaan antara pembuat kebijakan, pengelola SDM dan karyawan. Portal
telkom yaitu menyediakan berbagai fitur diantaranya Sasaran Kerja Individu
Online, absensi Online, surat Perintah Perjalanan Dinas Online, Cuti Online,
Career Online dan Training Need Analysis Online. Selain itu telkom juga
menerapkan berbagai aplikasi TI seperti proses otomatisasi bisnis Perusahaan
baik berupa nota dinas elektronik, virtual meeting, shared files, online survei,
dan intranet. Berikut Gambar dari tampilan portal Telkom:
1. Login
Portal Telkom Portal Telkom hanya dapat diakses oleh seluruh pegawai telkom,
namun ada beberapa fitur yang hanya dikhususkan oleh manager untuk dapat
melakukan proses bisnis tertentu.
2. Home
Portal Umum Merupakan Halaman saat pertama halaman dibuka atau sebelum user
login
3. Home
Portal Privacy Halaman Pertama yang dibuka saat user telah melakukan login.
KESIMPULAN
Manajemen proses bisnis
(business process management¾BPM)
menyediakan berbagai macam alat bantu dan metodologi untuk menganalisis proses
yang telah ada. Ketika sistem-sistem digunakan untuk memperkuat model bisnis atau proses bisnis yang
salah, maka bisnis dapat menjadi lebih efisien ketika melakukan apa yang
seharusnya tidak dilakukan. Sebagai hasilnya, perusahaan menjadi rentan
terhadap para pesaingnya yang telah menemukan model bisnis yang tepat. Ketika
suatu proses telah diimplementasikan dan dioptimalkan, maka perlu diukur secara
terus-menerus. Beberapa alat bantu BPM mendokumentasikan dan memonitor proses
bisnis untuk membantu perusahaan dalam mengidentifikasi ketidakefisienan,
dengan menggunakan perangkat lunak untuk menghubungkan dengan tiap-tiap sistem
yang digunakan untuk proses tertentu oleh perusahaan untuk mengidentifikasi
titik-titik yang bermasalah. Seiring dengan beberapa perusahaan yang meluas
dengan cepat dari bisnis berskala kecil menjadi merek global.
Selain itu melakukan Analisis
sistem dapat menggambarkan apakah yang harus dilakukan oleh suatu sistem untuk
memenuhi kebutuhan informasi, dan desain sistem (systems design) memperlihatkan
bagaimana sistem akan memenuhi sasaran ini. Perancang sistem memerincikan
spesifikasi sistem yang akan menjalankan fungsi yang diidentifikasikan dalam
analisis sistem. Keterlibatan pengguna yang tidak memadai merupakan penyebab
utama dari kegagalan sistem. Namun, beberapa sistem memerlukan lebih banyak
peran serta pengguna, dibandingkan yang lainnya. Dalam tahap pemrograman
(programming) spesifikasi sistem dipersiapkan, selama tahap perancangan
diterjemahkan ke dalam perangkat lunak dan kode program.
Pengujian sistem
informasi dapat dibagi ke dalam 3 tipe aktivitas: pengujian unit, pengujian
sistem, dan pengujian penerimaan. Siklus hidup sistem (systems life cycle)
adalah metode pengembangan sistem informasi yang paling tua. Selain itu siklus
hidup sistem masih digunakan untuk pengembangan sistem yang besar dan rumit
yang membutuhkan keperluan analisis yang tepat dan formal, spesifikasi yang
telah ditentukan sebelumnya, dan kendali yang ketat atas proses-prosesnya.
Beberapa jenis sistem informasi dapat dikembangkan oleh pengguna akhir dengan
sedikit bantuan formal dari spesialis teknis, atau bahkan tidak sama sekali.
DAFTAR
PUSTAKA
Anggraini, D., Hamiza, A.,
Doktoralina, C. M., & Anah, S. (2018). Application of Supply Chain
Management Practices in Banks: Evidence from Indonesia. International Journal
of Supply Chain Management, 7(5), 418-427.
Anggraini, D., & Tanjung, P.
R. S. (2020). Company Value: Disclosure Implications of Sustainable Supply
Chain, Profitability and Industrial Profile. International Journal of Supply
Chain Management, 9(2), 648-655.
Ardianto, A., & Fitrianah, D.
(2019). Penerapan Algoritma FP-Growth Rekomendasi Trend Penjualan ATK pada CV.
Fajar Sukses Abadi. InComTech, 9(1), 49-60.
Damayanti, K., Fardinal., (2019).
The Effect of Information Technology Utilization, Management Support, Internal
Control, and User Competence on Accounting Information System Quality.
Schollars Bulletin, 5(12), 751-758.
Doktoralina, C., & Apollo, A.
(2019). The contribution of strategic management accounting in supply chain
outcomes and logistic firm profitability. Uncertain Supply Chain Management,
7(2), 145-156.
Hanifah, S., Sarpingah, S., &
Putra, Y. M., (2020). The Effect of Level of Education, Accounting Knowledge,
and Utilization Of Information Technology Toward Quality The Quality of MSME ’
s Financial Reports. (3). doi:https://doi.org/10.4108/eai.3-2-2020.163573.
Herliansyah, Y., Nugroho, L.,
Ardilla, D., & Putra, Y. M., (2020). The Determinants of Micro, Small and
Medium Entrepreneur (MSME) Become Customer of Islamic Banks (Religion,
Religiosity, and Location of Islamic Banks ). The 1st Annual Conference
Economics, Business, and Social Sciences, (2). doi:https://doi.org/10.4108/eai.26-3-2019.2290775.
Putra, Y. M. (2019). Membangun
Sistem Informasi. Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen. FEB-Universitas
Mercu Buana: Jakarta
Putra, Y. M., (2019). Analysis of
Factors Affecting the Interests of SMEs Using Accounting Applications. Journal
of Economics and Business, 2(3), 818-826.
doi:https://doi.org/10.31014/aior.1992.02.03.129.
Rekarti, E., & Doktoralina,
C. M. (2017). Improving Business Performance: A Proposed Model for SMEs.
European Research Studies Journal, 20(3A), 613-623.
Rekarti, E., Doktoralina, C. M.,
& Saluy, A. B. (2018). Development model of marketing capabilities and
export performance of SMEs: A proposed study. European Journal of Business and
Management, 10(22).
Zamzami, A.H., & Putra, Y. M., (2019). Intensity of Taxpayers Using E-Filing (Empirical Testing of Taxpayers in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi). EPRA International Journal of Multidisciplinary Research (IJMR) 5(7), 154-161.
Komentar
Posting Komentar